Kajian Risalatul Jamiah Ke-3 : Basmalah

Admin KMNU Pusat 0 Pengunjung

Kajian Risalatul Jamiah Ke-3 : Basmalah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

SYARAH

Penulis memulai kalimatnya dalam kitab ini dengan basmalah. Ini merupakan aplikasi dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi :

كل أمر يبال إلا بدء ببسم الله الرحمن الرحيم

“Semua amalan tidak sempurna kecuali dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim”

Ini menunjukkan betapa pentingnya basmalah dalam setiap perbuatan kita. Walau ada beberapa pekerjaan yang tidak semestinya menggunakan basmalah seperti kegiatan yang dilakukan di dalam WC, bahkan Imam An-Nawawi di dalam Al-Adzkar juga membahas beberapa kegiatan ibadah yang tidak dianjurkan basmlah sebelumnya seperti mengucap salam. Seseorang yang mengucap salam tidak dianjurkan membaca basmalah terlebih dahulu. Hal ini disebabkan seperti itulah Rasulullah mencontohkannya dan anjuran memulai percakapan dengan salam. Namun, secara umum selain daripada itu hendaknya seorang muslim memulai kegiatannya dengan salam sebagaimana keumuman dalil.

Basmalah merupakan menunjukkan ketergantungan kita pada Allah. Pada kalimat basmalah kita menggunakan kata “dengan nama Allah” bukan “dengan Allah” sebab ini merupakan menunjukkan pengagungan kita kepada Allah bahwa hal yang kita lakukan ini tidak bisa terjadi kecuali atas izin Allah. Sebagaimana dalam keseharian biasa kita dengar, “melalui perintah gubernur”, “dengan instruksi presiden”, “atas nama bangsa Indonesia”, dan lainnya. Menisbatkan pada hal yang berkaitan dengannya untuk menunjukkan kesakralan hal tersebut.

Selanjutnya, lafadz Allah atau biasa kita sebut dengan lafadz jalalah dalam kalimat ini adalah lafadz yang hanya boleh digunakan oleh Dzat Ilah (sesembahan) yang haq untuk disembah sebagaimana dinukil dari kitab Tafsir Al-Maragi. Sehingga haram menggunakan nama tersebut kepada benda lain kecuali hanya sebagai sandaran, seperti Abdullah (hamba Allah), khalilullah (kekasih Allah), dan sebagainya.

Pada kalimat basmalah juga Allah memunculkan dua sifatnya, yakni Rahman ( رحمن ) dan Rahim ( رحيم ). Walau berasal dari susunan huruf yang sama, yakni ra-ha-ma ( ر ح م) namun ia memiliki makna yang berbeda. Di dalam hadis, dijelaskan bahwa Rahman adalah kasih saying Allah di dunia baik kepada kafir maupun mukmin, namun Rahim adalah kasih sayang Allah di akhirat hanya untuk orang-orang mukmin. Sehingga Nampak Rahman itu bersifat lebih luas pengertiannya dari Rahim, sebab Rahman berhak didapatkan oleh orang beriman maupun tidak sedang Rahim khusus kepada orang-orang beriman saja. Sejalan dengan kaidah bahasa :

“bertambahnya huruf penyusun maka bertambahnya makna”

Sebagaimana kita ketahui Rahman terdiri dari lima huruf (ra-ha-mim-alif-nun) sedang Rahim (ra-ha-ya’-mim) terdiri dari empat huruf. Menyebut sifat Allah juga bermakna meminta hal yang sejalan dengan sifat yang kita sebut. Seperti ketika kita menyebut, “para donator yang pemurah” berti kita secara tidak langsung kiat memohon kemurahan hati para donator, atau “wahai Adinda yang baik hati” berarti kita meminta kebaikan hati orang tersebut. Dari sini kita pahami betapa hebatnya makna kalimat basmalah ini walau ia hanya terdiri dari Sembilan belas huruf. Banyak hal yang diungkapkan Allah dengannya. Maka tidak sepantasnya kita meninggalkannya dalam setiap permulaan kegiatan kita.

Wallahu ta’ala a’lam

Al-Faqir ilallah Adhli Al-Karni

@adhli_alkarni

Menemukan kesalahan pada unggahan ini? Yuk sampaikan pada kami melalui email!

logo-kmnu-white